Boleh juga anda cari sebuah masjid di pedesaan yang tenang. Luangkan waktu tengah malam untuk beri'tikaf dan menyendiri dalam masjid. Sebelumnya ambil air wudlu untuk membersihkan tubuh anda dan niatkan mensucikan hati. Lakukan sholat lail minimal 2 rokaat. Kemudian anda berdzikir, lakukan kontemplasi, berdialog dengan Allah, Tuhan pencipta alam semesta, pencipta seluruh manusia dan makhluk hidup di alam semesta. Dialah yang memelihara anda. Dialah yang memberi rezki pada anda.
Dalam keheningan itu, dalam kontemplasi atau tafakur, dalam dzikrullah yang bergema di hati anda, akan muncul pertanyaan-pertanyaan: siapakah aku? Dari mana aku? Untuk apa aku hidup di dunia ini? Dan pertanyaan filosofis lainnya. Jika anda renungkan dalam keheningan yang sunyi, dalam kebeningan hati dan kejernihan pikir anda akan terkuak jawaban yang indah. Jawaban itu membuka makrifat anda, yang terdengar sebagai Firman Allah. Ya, jawaban yang langsung Allah berikan pada anda, karena dia sebenarnya telah ada dan bersemayam dalam hati yang terdalam (lubb) anda.
Manusia adalah makhluk yang terbaik, makhluk yang sempurna, yang diciptakan oleh Allah swt untuk tujuan yang mulia. Allah ciptakan manusia dari tanah, sebagai unsur jasamani dan ditiupkan ke dalamnya ruh yang berasal dariNya sebagai unsur rohani.
Dalam keheningan bertafakur, rasakan satu kerinduan untuk berdekatan (taqarub) pada Sang Ilahi, karena dariNyalah anda datang ke dunia ini dan kelak akan kembali padaNya. Pertanyaan untuk apa aku hidup di dunia? Akan terjawab jika anda terus lakukan dialog denganNya. Allah telah memberikan jawaban. Manusia hidup di dunia ini adalah untuk menjalankan amanah Ilahi. Amanah yang Allah berikan kepada manusia dikelompokkan dalam 3 macam yaitu statusnya sebagai Abdulllah, fungsinya sebagai Khalifatullah dan perannya untuk Rahmatan lil 'alamin.
Sebagai Abdullah
Manusia hidup di dunia ini memiliki status sebagai Abdullah, yang artinya menyembah dan mengabdikan diri kepadaNya, dengan menjalankan ibadah sebagaimana firmanNya dalam Al-Qura'an:
"Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah."
(QS. Adz-Dzariyat, 51:56)
(QS. Adz-Dzariyat, 51:56)
Menjalankan ibadah kepada Allah adalah bentuk ketaatan dan kepatuhan seorang hamba pada Sang Khaliq. Ibadah dalam ajaran Islam dikenal dua macam yakni ibadah maghdhah dan ghoiru maghdhah. Ibadah maghdhah adalah melaksanakan amalan langsung pada Allah seperti menunaikan shalat dengan khusuk, dengan aturan dan cara yang telah ditetapkan sebagaimana yang dicontohkan Rasululllah. Menuntut ilmu dieniyah, untuk menguatkan aqidah dan dapat mengamalkan syariah Islam, melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Menunaikan zakat dengan mengeluarkan sebagian rezeki yang Allah telah karuniakan, kepada mereka yang berhak. Melaksanakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah. Tadarus Al-Qur'an dengan makhraj yang benar dan tartil, memahami maknanya dan senantiasa dzikir atau mengingat Allah swt. Senantiasa memikirkan ciptaannya berupa alam semesta. Memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam. Ibadah ghoiru maghdhah adalah melakukan seluruh aktivitas, dengan menggunakan aturan dan tertib yang ditetapkan Allah, dengan niatan atau motivasi untuk mencari keridloan Allah. Dilakukan secara tulus dan ikhlas.
Sebagai Khalifatullah
Manusia memiliki fungsi sebagai Khalifatullah yang berarti wakil Allah di bumi ini. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur'an:
"Dan ketika Tuhanmu kepada para malaikat, Aku hendak menciptakan seorang khalifah di muka bumi," (QS. Al-Baqarah, 2:30)
fungsi kekhalifahan bisa diuraikan dalam dua macam. Pertama. wakil Allah di bumi berarti menjalankan fungsi untuk memelihara dan mengelola alam semesta, lingkungan alam dan masyarakat sesuai dengan profesinya. Seseorang yang menjalankan profesinya secara profesional, dengan mengedepankan etika, aturan yang benar dan hasilnya bisa memberikan manfaat bagi ummat, berarti dia menjalankan amanah sebagai Khalifatullah.
Seorang guru, dosen harus menyampaikan ilmunya kepada anak didiknya, mahasiswanya secara tulus dan ikhlas dengan cinta dan kasih sayang. Ynag mereka pikirkan, bagaimana anak didik/mahasiswa dapat menjadi pintar dan berprestasi. Mereka menggunakan ilmunya dengan benar dan akhlak atau perilaku keseharian yang baik dan mulia. Seorang guru harus bisa mengantarkan anak didiknya menjadi cerdas secara intelektual, cerdas emosional dan cerdas spiritual.
Seorang ahli hukum yang berkarir di bidang hukum, sebagai pengacara, sebagai hakim atau jaksa yang mempraktekkan hukum secara benar sesuai dengan aturan yang telah ditetapkannnya, bertindak dan berlaku adil dan arif terhadap siapapun juga berarti dia menjalankan fungsi kekhalifahan.
Seorang sarjana ekonomi yang menjalankan profesinya secara etis, memberikan pencerahan dalam bidang ekonomi bagi masyarakat dan juga berarti menjalankan fungsi kekhalifahan. Setiap orang yang melaksanakan pekerjaan, karir dan jabatannya dalam berbagai profesi, jika dilakukan dengan menggunakan nilai etika sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Syariah, berarti mereka menjalankan fungsi kekhalifahan.
Kedua, wakil Allah di bumi dalam mengemban amanah kepemimpinan. Baik memimpin dirinya sendiri, memimpin keluarganya, memimpin lingkungan, memimpin komunitasnya, memimpin organisasi dan juga memimpin pemerintahan baik lingkup kecil yakni RT/RW atau menjadi kepala negara. Jika amanah kepemimpinan ini dijalankan secara adil, bijaksana, jujur dengan cinta dan kasih sayang sehingga lingkungan atau masyarakat yang dipimpinnya menjadi maju, berkembang, meningkat kualitasnya, menjadi masyarakat yang sejahtera, berarti sebagai khalifah dia telah menjalankan kepemimpinan dengan benar.
Rahmatan Lil'alamin
Amanah sebagai Abdullah, sebagai khalifatullah akan memberikan dampak positif bagi umat atau masyarakat secara lebih luas. Kepemimpinan yang benar, jujur, adil dan penuh kasih sayang ini mewujudkan kedamaian, kesejahteraan dan punuh keberkahan.Manusia hidup di dunia ini juga memiliki peran sebagai Rahmatan Lil'alamin, artinya membawa rahmat bagi semesta alam. Memberikan kedamaian, ketentraman, kebaikan bagi seluruh alamm baik terhadap manusia sendiri maupun lingkungan hidupnya.
Setiap aktivitas yang dilakukan selalu dengan pertimbangan yang matang, dilakukan secara etis, penuh tanggung jawab, adil, arif, dengan cinta dan kasih sayang. Memiliki motiovasi yang tulus dan ikhlas, mencari keridhoan Allah semata. Hasilnya dalah rahmat bagi alam semesta.
Dalam keheningan tafakur, dzikir yang anda lakukan, anda akan temukan pemahaman tentang amanah Allah. Setelah pemahaman tentang amanah Allah ini, kemudian menjalankannnya, maka semua ini akan mengantarkan anda menjadi manusia yang mulia, di hadapan Allah, di depan para malaikat dan manusia lainnya.
***
1. Pejamkan mata anda, hirup udara dalam-dalam dan lepaskan secara perlahan. Renungkanlah makna dari tulisan pada bab kedua ini. Allah telah memberikan amanah pada manusia yaitu statusnya sebagai Abdullah, fungsinya sebagai Khalifatullah dan perannya sebagai Rahmatan Lil'alamin. Apa yang telah anda lakukan dengan amanah itu? Renungkan, bayangkan, rasakan tentang aktivitas anda selama ini, sudahkan memenuhi amanah Allah?. Buka mata anda setelah 2-3 menit.
2. Coba tuliskan amalan ibadah mana yang anda belum lakukan secara benar selama ini? Bagaimana dengan kerja anda dalam karir dan jabatan anda apakah dilakukan sesuai dengan aturan dan ketetapan Allah? Juga tuliskan bagaimana peranan anda untuk ikut memberikan kedamaian, kerahmatan bagi lingkungan dan komunitas anda?
3. Sekarang buatlah komitmen pada diri anda untuk memperbaiki ibadah anda, kerja dalam karir dan profesi anda serta buatlah rencana aktifitas sosial anda sebagai bentuk kepedulian anda terhadap lingkungan dan komunitas anda agar tercipta kedamaian dan kesejahteraan.
